Kamis, 01 Maret 2018

Mengenal Lebih Dekat Tentang Demensia & Komunitas Alzi Solo Raya

Mungkin banyak yang belum mengenal apa itu komunitas Alzi, Alzi itu singkatan dari Alzheimer Indonesia yang berdiri tanggal 22 Juli 2000 dan diresmikan oleh Menkes Kesehatan Prof. Dr. Ahmad Sujudi Sp. B pada tahun 2013. Pada Tahun 2009 ALZI resmi menjadi member dari Alzheimer Disease International ( ADI ) yang berpusat di London, Inggris. Yang memiliki perwakilan di beberapa kota, diantaranya DKI Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Solo, Surabaya, Palembang dan Medan.


Bergabung di Komunitas Alzi Solo Raya menjadikan mood booster tersendiri buat aku, karena menjadi salah satu bagian dari komunitas ALZI diri ini teredukasi tentang bagaimana merawat Orang Dengan Demensia atau yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan pikun. Masih teringat jelas dalam ingatan, bapak mengalami demensia sejak ditinggal wafat ibunda 3 tahun yang lalu. Sejak saat itu aku merasa sendiri, gak tahu apa yang harus dilakukan ketika salah satu keluarga ada yang mengalami demensia. Bapak mengalami banyak perubahan saat itu, dari sikap emosional yang meningkat, perasaan yang sensitif, mudah lupa, dan pertanyaan yang berulang-ulang.

Dulu aku menganggap itu hal yang biasa karena bapak masih beradaptasi dengan kesendiriannya. Ternyata lambat laun kepikunanya semakin meningkat. Lalu ada seorang dokter yang cantik, dr Maria Rini Indriati, SpKJ yg menjadi salah satu penanggung jawab dari Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia share info program capacity building/training dari Komunitas Alzi Solo Raya. Saat itu mengambil tema " Mengenal Lebih Dekat Demensia ". Alhamdulillah..., pucuk dicinta ulam tiba, diwaktu aku mencari ilmu tentang Orang Dengan Demensia, disitulah komunitas yang aku cari ada di depan mata.

health.detik.com

Program capacity building/training di komunitas ALZI disebut Caregiver Meeting dan di adakan tiap dua bulan sekali. Dengan mengikuti kegiatan ALZI aku baru ngeh apa itu cargiver.

Cargiver itu adalah yang memiliki peranan penting dalam merawat pasien yang sedang sakit, baik itu salah satu anggota keluarga atau orang lain. Jadi aku pun juga disebut cargiver.

Sedangkan Meeting itu adalah pertemuan. Jadi cargiver meeting ala komunitas Alzi itu diartikan sebagai pertemuan dengan cargiver untuk mengedukasi guna meningkatkan kualitas Orang dengan Demensia beserta Cargivernya. Keren khan......!!

Biasanya program cargiver meeting diadakan di Lab Prodia Surakarta. Selama ini memang PRODIA yang mendukung penuh kegiatan ALZI SOLORAYA. Dan untuk narasumber caregiver meeting dipegang oleh team dokter spesialis kejiwaan dari RSJD. Arif Zainudin Kentingan. Hebat banget kan, di mana jadwal dokternya sudah padat, masih menyediakan waktu untuk berbagi ke masyarakat untuk mengedukasi cargiver.

Mulai dari cargiver meeting perdana itu aku mulai intens mengikuti serangkaian program dari Komunitas Alzi, dan aku bahagia karena dari situ ternyata aku gak sendiri, banyak teman yang sepenanggungan. Dan dari komunitas itu pula aku menemukan jawaban tentang apa yang aku rasa selama ini. Tentang bagaimana merawat orang dengan demensia, apa saja penyakit penyerta orang dengan demensia, dan bagaimana pengobatan orang dengan demensia. Buat aku komunitas ALZI ini merupakan madrasah untuk menuntut ilmu demi mewujudkan Birrul Walidain ( tindakan berbakti kepada kedua orang tua )

Apa Sich Demensia

Demensia adalah sebuah sindrom yang berkaitan dengan penurunan kemampuan fungsi otak, seperti berkurangnya daya ingat, menurunnya kemampuan berpikir untuk memahami sesuatu. Biasanya Orang Dengan Demensia mengalami perubahan suasana hati dan perilaku, dan mayoritas akan mengalami kesulitan bersosialisasi. Seperti yang bapak saya alami, semenjak mengalami demensia beliau lebih senang menyendiri di teras sambil merokok. Dulu bapak tipikal yang religius, pernah menjadi imam masjid selama 10 thn, pada bulan ramadhan pun bapak yang menjadi imam. Pulang dari masjid suka tadarus Al-Qur'an sampai khatam berkali-kali, dan menginjak usia 70 th demensia telah mengubah hidup bapak menjadi pribadi yang introvert. Sholat lima waktu masih rajin, hanya saja sekarang jarang banget membaca Al- Qur'an.


medicinestuffs.com

Selama merawat bapak yang mengalami demensia ternyata tak semudah seperti apa yang aku bayangkan, hati yang tulus dituntut untuk mewujudkan seberapa besar pengabdian seorang anak terhadap orang tuanya. Ketika aku flashback bagaimana perjuangan bapak untuk mencari nafkah demi keluarga, disitu pula aku tak bisa menyia-nyiakan waktu untuk merawat bapak.

Berawal dari gabung di Komunitas Alzi Solo Raya aku jadi mengerti tentang bagaimana merawat orang dengan demensi dengan baik, salah satunya adalah berobat ke spesialis syaraf di salah satu rumah sakit di Solo, tentunya pakai fasilitas BPJS dong....!! Pengobatan syaraf itu sangat mahal, dengan memakai fasilitas BPJS tentu akan sangat membantu, tapi dengan syarat mengikuti aturan yang berlaku.

Terkadang orang menganggap pikun itu hal yang wajar dialami oleh lansia, maka tidak sedikit pula cargiver yang acuh terhadap orang dengan demensia. Alhasil, lansia tanpa pengobatan akan mengalami "ngebrok" ( istilah bhs jawa ). Kenapa demikian? Ya karena lupa di mana kamar mandi, jadi orang dengan demensia membuang hajat disembarang tempat.

Prosedur Menggunakan BPJS ke Spesialis Syaraf

1. Minta rujukan ke dokter faskes tingkat I.

 Sebelum dokter memberikan rujukan pasien akan di beri serangkaian pertanyaan untuk menguatkan diagnosa. Pertanyaannya sih sederhana saja, seputar kehidupan sehari-hari pasien. Mulai dari jumlah anak berapa, nama istri, nama anak-anaknya, tempat dan tanggal lahir di mana, dll. Ketika dengan pertanyaan yang sederhana saja pasien tidak bisa menjawab, tentu diagnosa akan mudah ditemukan.

2. Mendaftar di Rumah Sakit Tipe C

Karena sekarang BPJS menggunakan sistem rujukan berjenjang, maka rujukan ditujukan di sebuah rumah sakit tipe C terlebih dahulu. Dari situ kita persiapkan FC KTP, FC Kartu BPJS dan rujukan dari dokter keluarga. Tentu di sebuah rumah sakit dokter spesialis syaraf tidak hanya satu, pasien berhak memilih dokter yang di anggap cocok.

3. Menuju Poli Syaraf

Nah, pengobatan dimulai dari sini, dari Poli Syaraf. Sebelum dokter menentukan diagnosa yang lebih kuat, pasien akan diberi serentetan pertanyaan, gak begitu sulit juga sich model pertanyaannya. Tapi semudah-mudahnya pertanyaan tentu bagi pasien demensia tetep akan mengalami kesulitan.

Ada hal yang menyedihkan bercampur mengharukan ketika bapak ditanya berapa jumlah anak dan namanya siapa saja. Jawaban bapak sangat mengagetkan, dari enam anak yang dihafal bapak cuma satu yaitu aku. Coba bayangkan piye perasaanmu ??? Harus berbahagia atau sedih ??

Dari beberapa pertanyaan hanya 20 % yang dijawab benar meskipun sedikit meleset. Akhirnya bapak di diagnosa mengalami Alzheimer.

Setelah diagnosa selesai dokter memberikan resep obat, dan dokter menjelaskan kalau untuk pengobatan bapak ini untuk per tiga hari saja, karena itu sudah menjadi kebijakan dari BPJS. Bener-bener jauh dari ekspektasi, aku kira akan mendapat resep untuk satu bulan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana aku bisa ngantar bapak ke rumah sakit tiga hari sekali, sedangkan aku punya anak kecil yang tidak boleh di ajak ke rumah sakit. Untuk kontrol ke poli membutuhkan waktu seharian penuh. Dan aku sedikit lemas tak bersemangat.

Seminggu kemudian aku menghadap verivikator BPJS di rumah sakit tersebut, tentu untuk menanyakan bagaimana bisa pengobatan syaraf hanya ditanggung pertiga hari saja. Sedangkan pasien di poli syaraf rata-rata sudah lansia, ada yang pakai kursi roda karena mengalami stroke. Belum lagi kalau rumahnya jauh, duh kasihan sekali mereka. Aku saja yang rumahnya gak jauh dari rumah sakit merasa berat kalau harus ngantar bapak kontrol di Rumah Sakit. Tapi ya harus gimana lagi, sebagai pasien dan peserta BPJS memang harus menerima peraturan yang ada. Dan petugas dari BPJS mengatakan kalau semua itu sudah menjadi kebijakan dari Rumah Sakit tersebut.

Aku akui, selama bapak mengkonsumsi obat dari dokter spesialis syaraf, kesehatan bapak lumayan stabil. Meskipun demensia tidak bisa disembuhkan tapi minimal mengurangi gejala demensia. Paling tidak bapak sudah tidak menanyakan lagi di mana almarhumah ibu. Untuk obat yang di konsumsi bapak biar tidak cepet habis, aku bagi pil itu menjadi seperempat bagian, yang seharusnya 1 pil untuk satu hari bisa sampai empat hari. Hehehehe

Apa Saja Gejala Demensia Alzheimer ?

1. Gangguan Daya Ingat.

Sering lupa akan kejadian yang baru saja terjadi, lupa pada janji, menanyakan tentang suatu hal dengan berulan-ulang, lupa menaruh sesuatu.
Apa yang menjadi kebiasaan bapak dahulu sekarang sudah tidak dikerjakannya lagi. Misalnya, menjadi imam masjid. Dulu bapak pernah menjadi imam masjid puluhan tahun lamanya. Karena sekarang kondisi bapak yang sudah mulai pikun, jadi tugas sebagai imam digantikan oleh takmir masjid.

2. Sulit Fokus

Sulit melakukan aktivitas, pekerjaan sehari-hari, lupa cara memasak, mengerjakan sesuatu lebih lama dari biasanya. Seperti yang bapak alami, dulu rajin sekali mengaji, pulang dari masjid selalu mengaji dan dilantunkan dengan indah. Tapi sekarang sudah jarang, bahkan tidak pernah. Tapi untuk sholat alhamdulillah bapak tetap istiqomah dilakukan berjamaah di masjid.

Meskipun dalam keadaan demensia, yang dipikiran bapak hanya sholat dan sholat. Bahkan sholatnya sampai dobel-dobel karena bapak merasa belum mengerjakan sholat. Padahal tiap adzan berkumandang bapak langsung bergegas ke masjid.

3. Sulit melakukan kegiatan Familiar

Seringkali sulit untuk merencanakan atau menyelesaikan tugas sehari-hari, sulit mengatur keuangan dll.

4. Disorientasi

Bingung akan waktu, baik tanggal maupun hari-hari penting. Ketika jalan pagi bingung tidak tahu arah pulang.

Seperti yang bapak alami waktu itu, bapak sepedaan dari jam 9 pagi sampai rumah jam 8 malam. Kita sekeluarga sudah panik, bingung mau cari kemana. Sedangkan bapak tidak aku bekali hp, toh bapak selalu lupa bagaimana mengoperasikannya meskipun hanya mengangkat hp ketika berdering.
Alhamdulillah jam 8 malam kurang bapak pulang diantar lelaki setengah baya. Menurut om itu sich bapak terlihat capek dan bingung, maka didekatilah bapakku itu. Dan aku gak bisa melupakan kebaikan om yang menolong bapak. Gak hanya sekali sich bapak lupa jalan pulang.

5. Kesulitan Memahami Visuo Spasial

Sulit untuk membaca, mengukur jarak, membedakan warna, menuangkan air di gelas namun tumpah dan tidak tepat penuangannya.

6. Gangguan Berkomunikasi

Kesulitan berbicara dan mencari kata yang tepat untuk menjelaskan suatu benda, seringkali berhenti ditengah percakapan.
Seperti yang bapak alami, sepulang sholat dari masjid bapak hendak menceritakan suatu kejadian atau berita. Tapi selalu terputus karena lupa dengan rentetean kejadian yang sesungguhnya.

7. Menaruh Barang Tidak Pada Tempatnya.

Lupa di mana meletakkan sesuatu, bahkan kadang curiga ada yang mencuri atau menyembunyikan barang tersebut.
Nah ini yang paling sering bapak alami.Di mana aku dituntut harus sabar dan legowo dengan sikap bapak. Ketika bapak sering lupa di mana menyimpan uang, saat itu juga yang tertuduh adalah anak-anakku.

Sempet sich marah, bagaimanapun aku tidak pernah mendidik anakku sebagai pencuri atau mengambil barang yang bukan haknya. Tapi seketika aku tersadar dengan apa yang dialami bapak adalah demensia yang sudah mengarah alzheimer. Jadi aku harus belajar mengenali sikap bapak akibat dari demensianya itu.

8. Salah Membuat Keputusan

Kesulitan Berbicara dan seringkali berhenti ditengah percakapan dan bingung untuk melanjutkannya.

9. Menarik Diri Dari Pergaulan

Tidak memiliki semangat untuk bersosialisasi dengan tetangga. Seperti yang di alami bapak, dulu setelah jamaah di masjid bapak meluangkan waktu untuk ngobrol dengan teman-teman sebayanya, tapi sekarang sudah tidak lagi, setelah selesai sholat bapak langsung pulang ke rumah. Pun ketika ada undangan arisan di kampung, bapak juga enggan untuk berangkat.

10. Perubahan Perilaku & Kepribadian

Emosi berubah drastis, menjadi bingung, mudah marah,dan mudah kecewa. Ketika kita ngobrol dengan lansia yang mengalami demensia, kuncinya hanya satu hal, yaitu memikirkan dulu apa yang hendak di ucap. Begitu mendengar kata-kata yang menyakitkan, orang dengan demensia tak segan-segam marah dan gak peduli dengan lingkungan sekitar.

Bagaimana Mengurangi Resiko Alzheimer ?

Hanya dua kata, CERDIK & CERIA.

CERDIK :

C : Cek kesehatan rutin
E : Enyahkan asap rokok
R : Rutin aktivitas fisik & spiritual serta stimulasi otak
D : Diet seimbang
I  : Istirahat cukup
K : Kelola stres dan bersosialisasi

CERIA :

C : Cerdas intelektual, emosional dan spiritual
E : Empati dalam berkomunikasi
R : Rajin beribadah sesuai keyakinan
I : Interaksi yang bermanfaat
A : Asah, asih dan asuh tumbuh kembang dalam keluarga & masyarakat

Itu dulu ya sedikit curhat tentang bapakku yang mengalami demensia. Nanti kapan-kapan lanjut ke sesi 2, tentang penyakit penyerta pada demensia.

Jangan maklum dengan pikun ya.........








Tidak ada komentar:

Posting Komentar